Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Politik

Ekonomi

Berita Nasional

Berita Internasional

Tsaqafah

Klik Gambar

» » Miras, Lagi dan Lagi

Miras (Sumber Gambar: Republika.co.id)


Oleh: Tikarashalihah

Begitu banyak permasalahan yang terjadi di negeri ini. Mulai dari perilaku asusila, kriminalitas, dan perilaku menyimpang lainnya yang tak pernah absen dalam menghiasi media.
Belum lama, fenomena minuman keras (miras) oplosan kembali menelan korban jiwa.

Sebanyak 11 orang warga di Cicalengka Bandung tewas akibat menenggak minuman keras oplosan (Republika.co.id, Minggu 8/4/18)

Bahkan ditempat lain, 31 warga dinyatakan meninggal dunia usai menenggak minuman keras oplosan ( jateng.tribunnews.com, Kamis 5/4/18)

Mungkin tidak sedikit orang yang sadar akan bahaya miras, tapi kenapa ini terus dilakukan? Bahkan diminati?

Padahal sudah jelas, banyak sekali kerugian yang akan didapatkan ketika menenggak miras oplosan, mulai dari iritasi lambung, lukanya pencernaan terutama hati bahkan kematian.
Lebih jauh dari itu, islam mengharamkan segala minuman yang memabukan yang salah satunya adalah miras.

“Semua yang memabukkan itu (hukumnya) haram”. (HR. Muslim)

Rasulullah menyebutkan bahwa minuman keras sebagai ‘ummul khabaits’, sumber dari segala kejahatan. Karena dengan meminum khamr, kesadaran seseorang bisa hilang dan ia bisa melakukan kejahatan apa saja seperti merampok, berzina bahkan membunuh.
“Hendaklah kalian menjauhi minuman keras karena ia adalah induk segala kejahatan, barangsiapa yang tidak  mau menjauhinya, sungguh ia telah durhaka kepada Allah dan RasulNya dan azab layak menimpa yang durhaka kepada Allah dan RasulNya.”(HR. Thabrani).

Kenapa ini terus terjadi? Mengingat fenomena minuman keras (miras) oplosan bukanlah kali pertama menelan banyak korban.

Usut punya usut, biasanya dalih mereka melakukan ini salah satunya karena mereka ingin lari dari masalah. Miras dianggap bisa membantu mereka untuk sejenak melupakan masalah hidup. Miras di anggap memberikan efek lupa kepada penikmatnya.
Padalah masalah adalah sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir.

Allah Ta’ala berfirman:
"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan" (QS. Al-Anbiya: 35)

Namun lagi lagi inilah buah dari sistem liberalis-sekuler. Sistem ini telah melahirkan sosok-sosok yang jauh dari agama.
Bagaimana tidak?
Ide sekuler jelas-jelas telah memandulkan peran agama. Agama dipisahkan dari kehidupan, agama tidak lagi dijadikan sebagai pedoman dalam setiap perbuatan.

Hal ini akan terus terjadi selama paham liberalis-sekuler yang membolehkan gaya hidup bebas dan memisahkan agama dari kehidupan dibiarkan terus melekat pada sistem hari ini.

Maka dari itu, cara menyelamatkan generasi dari kerusakan moral adalah dengan menegakan agama sebagaimana mestinya. Menjadikan agama sebagai pondasi hidup dan menerapkannya sebagai aturan dalam seluruh aspek kehidupan.


Wallahu a'lam.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply